“Menginspirasi dan Meneladani Rasulullah Sebagai Pendidik Sejati”

“Menginspirasi dan Meneladani Rasulullah Sebagai Pendidik Sejati”

 

“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu

(yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (Kedatangan) hari kiamat

dan dia banyak menyebut Allah.

(QS. Al-Ahzab : 21)

Dalam ajaran Islam kita diperintahkan untuk taat dan patuh kepada para pemimpin yang baik serta dianjurkan meneladaninya. Seorang pemimpin sejati yang patut kita contoh dan harus dijadikan teladan yaitu Rasulullah SAW. Sebagai pemimpin umat Rasulullah SAW betul-betul memberikan kateladanan bahwa ucapan dan tindakan beliau selalu selaras dengan komitmen dan janji-janjinya. Tidak heran ketika belum menginjak dewasa Nabi Muhammad SAW sudah dikenal dengan sebagai al-amin. Pada saat dewasa pun, beliau bukan saja memposisikan dirinya sebagai pemimpin agama yang mengurusi masalah teologi Islam semata. Dalam ranah sosial dan kemanusiaan ia pun turut bertanggungjawab terhadap pembangunan pokok-pokok etika dan moral masyarakat. Maka dari itu sifat-sifat kenabian yang menjadi citra diri beliau yaitu seperti, shiddiq, amanah, fathanah, tabligh harus mengendap dalam setiap pribadi umatnya dan sejarah perjalanan hidup beliau merupakan sebuah sketsa yang harus dijejaki

Setiap metodologi dapat diukur kebenarannya dengan ukuran keberhasilan dan hasil-hasil yang dicapainya. Dan bila kaedah ini diterapkan dalam mengukur metodologi Rasulullah Saw dalam mendidik, maka akan ditemukan keberhasilan pendidikan yang begitu menakjubkan yang tidak pernah dicapai siapapun sepanjang sejarah.

Pendidikan dalam bahasa arab adalah tarbiyah yang berarti membentuk manusia ke arah kesempurnaan yang diridhai Allah SWT. Menuju ke  arah kesempurnaan dan bukan mencapai kesempurnaan, karena kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT, dan kemaksuman (bebas dari salah dan dosa) adalah milik Rasulullah.

Menyingkap kepribadian Rasulullah Saw sebagai pendidik menuntut kita untuk mengangkat sifat Rasulullah Saw yang mengantarkannya menjadi pendidik sejati, juga metodologi pendidikan Rasulullah yang dengan metode tersebut beliau mendidik sehingga berhasil dengan kesuksesan yang menakjubkan atas izin Allah SWT.

Rasulullah memandang bahwa pendidikan harus diawali dengan pembentukan jiwa dan keimanan terlebih dahulu. Bila pendidikan tidak diawali dengan pembentukan jiwa dan keimanan maka segala tampilan luar dari hasil pendidikan bukanlah tampilan yang sebenarnya. Penanaman keimanan terhadap prinsip-prinsip yang mensucikan jiwa dan menjadikan prilaku lurus menjadi prioritas program, seperti penanaman keimanan agar mencintai kebaikan dan membenci kezaliman dan kekejian.

Rasulullah memerintahkan para orang tua untuk mengarahkan anak-anaknya shalat pada usia tujuh tahun. Hal ini harus dilakukan dan diteruskan dengan pengarahan dan penanaman tentang kepuasan dan keimanan dalam jiwa anak terhadap urgensi shalat dan kewajibannya hingga tiga tahun berikutnya. Dan bila anak meninggalkan shalat pada usia sepuluh tahun, dia diberi sanksi. Dari Amru bin Syuaib, beliau  berkata: “Rasulullah Saw bersabda:“Perintahkanlah anak-anak kalian untuk shalat pada usia tujuh tahun, dan pukullah mereka karena meninggalkannya pada usia sepuluh tahun dan pisahkan mereka dari tempat tidur”. (HR. Abu Dawud)

.